Nasi Padang yang mendunia

Tulisan ini juga terdapat di website kami https://cit.co.id di link berikut ini

Masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat terkenal dengan budaya merantaunya. karena ada pepatah minang “Karakok Madang Di Hulu, Babuah Babungo Balun, Marantau Bujang Dahulu, Di Rumah Paguno Balun” yang artinya Anak lelaki/anak bujang minang disuruh merantau dahulu, karena belum berguna di kampung tenaganya. di tambah terkadang di kampung sulit untuk mendapatkan air, sehingga sulit untuk menanam padi dan tanaman lain.

Seorang Pemuda minang biasanya di bekali oleh 2 Kepandaian, kepandaian bela diri atau disebut silek serta kepandaian dalam berdagang. Maka memang orang Padang itu identik dengan pedagang. Nah.. ada juga yang juga dibekali kemampuan memasak maka mereka akan berdagang Nasi (Membangun rumah makan) yang di daerah lain disebut “Nasi Padang”. Tapi jangan berharap akan menemukan rumah makan padang di Sumatera barat, karena di Sumatera Barat tidak ada Rumah Makan Padang, adanya hanya restoran atau rumah makan tanpa ditulis “Padang” nya.

Salah Satu Rumah Makan Padang yang cukup terkenal adalah RM Sederhana. Kisah suksesnya pernah di tulis di https://www.moneysmart.id berikut kisahnya.

Pendiri RM Padang Sederhana adalah H. Bustaman yang lahir Lintau, Kab. Tanah Datar Sumatera Barat pada tahun 1955 (satu Kampung dengan ibu Mufidah Jusuf Kalla) . H. Bustaman cuma lulusan SD, namun harus merantau ke kota lain karena faktor budaya. Laki-laki yang hampir dewasa dipaksa buat merantau untuk mencari ilmu dan pengalaman.

Tujuan pertamanya adalah Jambi. Di sana ia kerja serabutan. Mulai dari kerja di kebun karet, jualan koran, tukang cuci di rumah makan, dan jadi pedagang asongan.

Barulah pada tahun 1970 atau setelah dua tahun menikah, Bustaman memberanikan diri buat merantau ke Jakarta. Bustaman menikah dengan Fatimah dan udah punya anak. Di Jakarta, Bustaman ikut adik iparnya dan tinggal di daerah Matraman, Jakarta Pusat.

Awalnya, Bustaman berdagang rokok di pinggir jalan menggunakan gerobak.

Di sini masalah juga menghampirinya. Di lingkungannya ada keributan antara orang Minang dan preman setempat. Akibatnya, Bustaman dan keluarga harus pindah ke daerah Pejompongan. Saat pindah itu penghasilannya turun drastis.

Kondisi tersebut memaksanya buat mikir gimana cara dapat penghasilan lebih. Kepikiranlah dia buat buka warung makanan aja. Berbekal pengalamannya bekerja sebagai tukang cuci piring di warung makan, Bustaman mencoba menyewa lahan satu kali satu meter dengan harga Rp 3 ribu.

Meski gak bisa masak, Bustaman mencoba buat belajar. Namun ternyata setelah dijalani omzetnya jauh banget dari modal yang dikeluarkan.

Sialnya lagi, hasil dagangan malah dibawa lari oleh pembantu barunya.

Meski sempat gagal, toh Bustaman gak putus aja gitu aja. Dia konsisten berusaha buat mendirikan rumah makan. Dia pun mencari tukang masak yang bisa dipercaya.

Di sinilah titik balik hidup Bustaman. Warungnya laku keras karena makanannya enak banget.

Namun ternyata kesuksesan tersebut harus mengalami cobaan lagi. Warung Bustaman yang saat itu masih berupa gerobak harus diangkut oleh Satpol PP.

Bustaman pun akhirnya membuka warung di lahan yang disediakan oleh pemerintah. Harga beli lapak tersebut Rp 750 per lapak. Namun, satu nama cuma boleh beli satu lapak aja. Padahal, Bustaman butuh dua lapak.

Bustaman pun meminjam nama pamannya. Namun, tantenya malah mengusik kesuksesan warung Bustaman dengan merebut warung tersebut.

Meski demikian, nasib baik tetap berpihak pada Bustaman. Warung yang kemudian dikelola oleh tantenya tersebut gak bisa lebih laris daripada warungnya.

Bustaman pun membeli lapak baru di seberang lapak yang udah dikuasai oleh tantenya. Warungnya laris-manis!

Kisah Bustaman gak berakhir sampai situ aja. Bustaman sempat mengalami musibah lagi saat rumahnya yang berada di Pejompongan terbakar. Yang selamat adalah istri, anak, serta gerobak dagangan miliknya. Bustaman dan keluarga sempat tinggal di rumah pemasok bahan masakannya.

Bustaman gak menyerah. Dia pantang mundur dan memulai lagi dari awal.

Tahun demi tahun berlalu, kini Bustaman udah bisa menikmati hasil jerih payahnya. Bustaman mengembangkan warungnya ke daerah Pasar Bendungan Hilir di tahun 1974. Kemudian, lanjut buka cabang di Roxy Mas.

Kisah pemberian nama Rumah Makan Padang Sederhana sendiri berasal dari nama restoran di Jambi tempat Bustaman bekerja. Nama tersebut dipilih istrinya atas pertimbangan nama “Sederhana” mudah diingat.

Kini, RM Padang Sederhana udah tersebar di seluruh Indonesia dan bahkan sampai ke Malaysia. Bustaman mengembangkan rumah makan ini sendiri maupun menggunakan sistem franchise.

Pada tahun 2000, rumah makan ini punya badan hukum buat mengamankan merek “Sederhana”. RM Padang Sederhana berada di bawah naungan perusahaan bernama PT Sederhana Citra Mandiri. Terdapat 70 restoran yang tersebar di kedua negara tersebut.

Sebagai informasi aja, Rumah Makan Padang Sederhana milik Bustaman adalah yang berlogo rumah Gadang dan terdapat tulisan SA. Ini penting kamu tahu karena cukup banyak rumah makan Padang lain yang sama-sama menggunakan nama Sederhana.

Dari kisah di atas, sebenarnya ada beberapa kunci sukses yang bisa kamu contek saat pengin bangun usaha, lho.

Berikut beberapa pelajaran bisnis yang dimaksud:

1. Gak boleh menyerah meski gak punya skill

Bisnis beda dengan bekerja sebagai karyawan. Meski kamu gak punya keahlian di bidang tertentu, hal tersebut bukanlah penghalang.

Contohnya, kamu gak harus jago masak buat buka restoran. Kamu juga gak harus bisa bikin sesuatu buat dagang. Yang penting kamu punya mitra yang bisa diajak kerja sama dan yang paling penting bisa dipercaya.

2. Cari lokasi yang strategis

Dari kisah di atas, kamu bisa perhatikan bahwa pendiri RM Sederhana tersebut pintar lihat lokasi-lokasi baru.

Misalnya, H. Bustaman langsung mendirikan warung di Pasar Bendungan Hilir yang waktu itu baru dibuka. Kemudian, dia pun lanjutkan ke lokasi Roxy yang emang terkenal ramai.

3. Terus mencoba dan gak menyerah

Sebagai pebisnis, H. Bustaman patut dapat acungan jempol atas kegigihannya buat mencoba dan terus mencoba. Mulai dari kerja serabutan, berdagang rokok, hingga buka warung makanan yang ternyata gagal.

Masalah-masalah  tersebut gak menumpulkan akalnya buat menyerah gitu aja. Dia terus mencoba inovasi baru. Kamu pun demikian. Ketika satu usaha gagal, sebaiknya kamu gak menyerah gitu aja dong. Siapa tahu kesuksesanmu tinggal sejengkal lagi.

4. Pemilihan nama yang tepat ternyata berefek banget

Nama “Sederhana” emang mudah banget buat diingat. Plus, Indonesia banget.

Nah, kamu yang pengin memulai usaha sebaiknya gak mengabaikan pemilihan nama. Pilihlah yang mudah diingat oleh masyarakat dan sesuai dengan target pasar.

5. Gunakan metode waralaba

Beberapa usaha itu cocok diwaralaba. Dengan gitu, penyebaran cabangnya jadi lebih cepat dan lebih ringan.

Kamu gak perlu keluar banyak uang buat menyebarkan usaha kamu ke seluruh penjuru Indonesia dan bahkan negara lainnya. Bermodal nama yang udah sukses, siapa sih yang gak pengin mencicipi manisnya untung dari usaha tersebut?

Gak ada salahnya buat bagi-bagi sama orang lain. Toh, kamu juga dapat keuntungan.

Jadi, tertarik pengin ikuti jejak sukses Rumah Makan Sederhana ini? Atau, kamu malah berminat buat mencicipi legitnya keuntungan bisnis ini dengan jadi mitra mereka? atau mungkin mau training Mikrotik di Padang ke Indonetworkers.com aja ya daftarnya di https://indonetworkers.com/training ya

untuk sumber tulisan terkait kisah suksesnya H. Bustaman dari sini ya

untuk sumber foto dari sini ya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *